Bulan Sya’ban dalam Islam

Keutamaan di Bulan Sya’ban
Oleh Yusuf Effendi, S.H.I

Sya’ban adalah istilah bahasa Arab yang berasal dari kata syi’ab yang artinya jalan di atas gunung. Islam kemudian memanfaatkan bulan Sya’ban sebagai waktu untuk menemukan banyak jalan, demi mencapai kebaikan.

Karena bulan Sya’ban terletak di antara bulan Rajab dan bulan Ramadhan, karena diapit oleh dua bulan mulia ini, maka Sya’ban seringkali dilupakan. Padahal semestinya tidaklah demikian. Dalam bulan Sya’ban terdapat berbagai keutamaan yang menyangkut peningkatan kualitas kehidupan umat Islam, baik sebagai individu maupun dalam lingkup kemasyarakatan.

Karena letaknya yang mendekati bulan Ramadhan, bulan Sya’ban memiliki berbagai hal yang dapat memperkuat keimanan. Umat Islam dapat mulai mempersiapkan diri menjemput datangnya bulan termulia dengan penuh suka cita dan pengharapan anugerah dari Allah SWT karena telah mulai merasakan suasana kemuliaan Ramadhan.

Rasulullah SAW bersabda,

ذاكَ شهر تغفل الناس فِيه عنه ، بين رجب ورمضان ، وهو شهر ترفع فيه الأعمال إلى رب العالمين، وأحب أن يرفع عملي وأنا صائم — حديث صحيح رواه أبو داود النسائي
Bulan Sya’ban adalah bulan yang biasa dilupakan orang, karena letaknya antara bulan Rajab dengan bulan Ramadan. Bulan Sya’ban adalah bulan diangkatnya amal-amal. Karenanya, aku menginginkan pada saat diangkatnya amalku, aku dalam keadaan sedang berpuasa.” (HR Abu Dawud dan Nasa’i)

Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan pengakuan Aisyah, bahwa Rasulullah SAW tidak pernah berpuasa (sunnah) lebih banyak daripada ketika bulan Sya’ban. Periwayatan ini kemudian mendasari kemuliaan bulan Sya’ban di antar bulan Rajab dan Ramadhan.

Karenanya, pada bulan ini, umat Islam dianjurkan untuk memperbanyak berdzikir dan meminta ampunan serta pertolongan dari Allah SWT. Pada bulan ini, sungguh Allah banyak sekali menurunkan kebaikan-kebaikan berupa syafaat (pertolongan), maghfirah (ampunan), dan itqun min adzabin naar (pembebasan dari siksaan api neraka).

Dari sinilah umat Islam, berusaha memuliakan bulan Sya’ban dengan mengadakan shodaqoh dan menjalin silaturrahim. Umat Islam di Nusantara biasanya menyambut keistimewaan bulan Sya’ban dengan mempererat silaturrahim melalui pengiriman oleh-oleh yang berupa makanan kepada para kerabat, sanak famili dan kolega kerja mereka. Sehingga terciptalah tradisi saling mengirim parcel di antara umat Islam.

Baca lebih lanjut

Dipublikasi di keutamaan bulan sya'ban | Tinggalkan komentar

Model Pembelajaran E-Learning

E-Learning Memang Penting … ?

  1. A. Pendahuluan

Kunci pembangunan masa mendatang bagi bangsa Indonesia adalah pendidikan. Sebab dengan pendidikan diharapkan setiap individu dapat meningkatkan kualitas keberadaannya dan mampu berpartisipasi dalam gerak pembangunan. Dengan pesatnya perkembangan dunia di era globalisasi ini, terutama di bidang teknologi dan ilmu pengetahuan, maka pendidikan nasional juga harus terus-menerus dikembangkan seirama dengan zaman.

Pada umumnya sebuah sekolah dan pendidikan bertujuan pada bagaimana kehidupan manusia itu harus ditata, sesuai dengan nilai-nilai kewajaran dan keadaban (civility). Semua orang pasti mempunyai harapan dan cita-cita bagaimana sebuah kehidupan yang baik. Karena itu pendidikan pada gilirannya berperan mempersiapkan setiap orang untuk berperilaku penuh keadaban (civility). Keadaban inilah yang secara praktis sangat dibutuhkan dalam setiap gerak dan perilaku. Dalam undang-undang Republik Indonesia No. 20 Tahun 2003 BAB I Pasal 1 ayat 1 bahwa Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk Mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.

Selama ini pendidikan di Indonesia masih menggunakan metode tradisional dan dikotomis (terjadi pemisahan) antara pendidikan yang berorientasi iman dan takwa (imtak) dengan ilmu pengetahuan dan tekhnologi (iptek). Pendidikan seperti ini tidak memadai lagi untuk merespon perkembangan masyarakat yang sangat dinamis. Metode pendidikan yang harus diterapkan sekarang adalah dengan mengembangkan pendidikan yang integralistik yang memadukan antara iman dan takwa (imtak) dengan ilmu pengetahuan dan tekhnologi (iptek). Semakin melemahnya bangsa ini pasca krisis moneter yang kita alami telah membuat Indonesia berada di urutan bawah dalam hal kualitas pendidikannya. Minimnya sarana dan prasarana pendukung menyebabkan pengajaran tidak dapat dilakukan dengan optimal.

Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Uncategorized | Tinggalkan komentar

A L I R A N-ALIRAN DALAM FILSAFAT

Oleh Yusuf Effendi, S.H.I

(kepada semua saudara-saudaraku  yang mawu ngutip tulisan yang ada di blog ini harus jujur dengan menyertakan alamt blog ini ya….

Dalam perjalanannya, problem yang dihadapi oleh manusia makin kompleks, sehingga membutuhkan jawaban yang kompleks pula. Jawaban yang diberikan terhadap suatu problem tidak selalu dapat tuntas, bahkan kadang-kadang hanya sebagian kecil darinya yang terjawab dengan baik. Karena latar belakang yang berbeda-beda, baik dilihat dari manusianya maupun tantangan atau problemnya, maka berakibat juga pada beragamnya bagaimana suatu jawaban diberikan.

Oleh karena itu, suatu problem yang sama, karena dilihat dari berbagai sudut dan arah, menimbulkan jawaban yang berbeda. Timbullah bermacam-macam aliran dalam filsafat. Baca lebih lanjut

Dipublikasi di filsafat, Uncategorized | Tag , | Tinggalkan komentar

Mendidik Tidak Berlebihan (Fenomena Kelulusan Sekolah)

Yusuf Effendi, S.H.I

Di penghujung bulan april yang lalu pemerintah mengumumkan nilai hasil Ujian Nasional untuk siswa jenjang SMU/MA/SMK. Hasil ujian kelulusan yang diberikan pemerintah kepada para siswa pun ditanggapi beragam oleh kebanyakan siswa. Tanggapan para siswa setelah menerima hasil pengumuman baik yang lulus ataupun tidak lulus masing-masing memiliki ekspresi sebagai wujud dari rasa gembira ataupun duka.

Yang menarik untuk kita cermati Dari beberapa ekspresi yang dimunculkan oleh para siswa setelah menerima nilai hasil ujian baik yang lulus atau tidak lulus adalah bentuk ekspresi yang seakan akan sudah menjadi budaya dan tradisi. ekspresi yang biasanya dipertontonkan untuk siswa yang kebetulan lulus adalah dengan mencoret-coret seragam yang sebenarnya masih layak pakai, setelah puas corat-coret seragam, mereka langsung berkonvoi kendaraan yang diiringi dengan bisingnya suara knalpot, selain itu ada juga yang melakukan tawuran dengan sekolah lain. Baginya, seakan-akan mereka adalah pemenang. Namun Akibat yang ditimbulkan atas ulah mereka adalah suasana lingkungan menjadi gaduh dan tidak karuan, belum lagi kemacetan yang ditimbulkan akibat ulah mereka. Lagi-lagi orang lain ikut menjadi korban yang dirugikan baik itu kebisingan ataupun kemacetan. Baca lebih lanjut

Dipublikasi di kelulusan, mendidik, tidak berlebihan, Uncategorized | Tag | Tinggalkan komentar

METODE PEMBELAJARAN ALA NABI (Studi atas Keragaman Ungkapan Hadis Nabi)

  1. A. Latar Belakang Masalah

Seluruh kegiatan pembelajaran yang dilakukan, baik pembelajaran formal maupun pembelajaran informal, diarahkan untuk menggapai tujuan pendidikan. Menurut Muhammad Amin, pendidikan sejatinya tidak hanya mencakup dimensi akal, tetapi juga merambah dimensi badan, perasaan, kehendak, dan seluruh unsur kejiwaan manusia serta bakat-bakat dan kemampuannya. Dengan demikian, pendidikan merupakan upaya untuk mengembangkan bakat dan kemampuan individual, sehingga potensi-potensi kejiwaan itu dapat diaktualisasikan secara sempurna.[1]

Lebih jauh, Abuddin Nata menyimpulkan bahwa tujuan pendidikan adalah membina manusia agar menjadi khalifah Allah di muka bumi. Akan tetapi, implementasi tujuan pendidikan tersebut harus disesuaikan dengan situasi dan kondisi suatu masyarakat, terutama peserta didik. Dengan demikian, implementasi tujuan pendidikan tersebut disesuaikan dengan bakat dan keahlian yang dimiliki oleh masing-masing peserta didik.[2]

Untuk mencapai tujuan pendidikan sebagaimana yang diharapkan, diperlukan suatu startegi dan teknik yang sering dikenal dengan metode pembelajaran. Secara definitif, metode pembelajaran adalah suatu cara atau jalan yang ditempuh yang sesuai dan serasi untuk menyajikan suatu hal sehingga akan tercapai suatu tujuan pembelajaran yang efektif dan efisien sesuai dengan yang diharapkan.[3]

Ada beragam metode pembelajaran yang sering digunakan oleh para pendidik dalam kegiatan belajar-mengajar. Di antaranya adalah metode ceramah, metode tanya-jawab, metode diskusi, metode sosio-drama (role playing), metode kerja kelompok, metode pemecahan masalah (problem solving), metode karyawisata (field-trip), metode survai masyarakat, dan sebagainya.[4]

Sebenarnya, urgensi penggunaan metode pembelajaran dalam dunia pendidikan telah diisyaratkan oleh Allah swt. dalam Al-Qur’an.

اُدْعُ إِلَى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيْلِهِ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ %

Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhan-mu, Dia-lah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dia-lah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk. (Q.S. an-Nahl [16]: 125)

Secara tersirat, dalam ayat di atas terkandung tiga metode pembelajaran, yaitu h}ikmah (kebijaksanaan), mau’id}ah h}asanah (nasihat yang baik), dan muja>dalah (dialog dan debat).

Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Uncategorized | Tag , | Tinggalkan komentar

Developing of Technology (Pengembangan Teknologi)

Sejak manusia diciptakan di dunia, teknologi dengan sendirinya sudah muncul mendampingi manusia. Dengan dikarunia akal pikiran dan hati nurani inilah kemudian manusia berfikir untuk memanfaatkan alam sekitar dalam keberlangsungan hidupnya. Proses berfikir dalam memudahkan gerak, langkah dan kehidupan manusia dengan menghasilkan sesuatu atau alat inilah kemudian teknologi muncul. Karena sejatinya teknologi adalah cara melakukan sesuatu untuk memenuhi kebutuhan manusia dengan bantuan alat dan akal sehingga seakan-akan memperpanjang, memperkuat, atau membuat lebih ampuh anggota tubuh, panca indera, dan otak manusia,(Iskandar Ali Syahbana :1981).

Sesuai dengan kodratnya manusia adalah sebagai makhluk yang berkembang, alam dan seluruh isinya pun juga mengalami perkembangan. Tak terkecuali dengan teknologi, teknologi yang ada pun selalu mengalami pengembangan dari masa kemasa yang disesuaikan dengan kebutuhan dan keadaan zaman. Karena dorongan untuk hidup yang lebih nyaman, lebih makmur dan lebih sejahtera inilah manusia selalu berupaya untuk mengembangkan teknologi yang ada. Dahulu misalnya orang ketika akan mengangkat barang bawaan yang banyak teknologi yang digunakan dengan menggunakan teknologi gerobak miring, sekarang untuk mengangkat barang bawaan yang banyak dengan sekali angkut tidak lagi menggunakan gerobak miring melainkan bisa menggunakan mobil truck, kapal atau pesawat.

Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Teknologi | Tag , , | Tinggalkan komentar

EPISTEMOLOGI EKSISTENSIALISME SØREN KIERKEGAARD (Relevansi dan Implikasinya dalam Dunia Pendidikan Islam)

Oleh Yusuf Effendi, S.H.I

Bangkitanya idealisme Jerman merupakan suatu hantaman terhadap individu, karena para filsuf idealisme hanya menggeluti persoalan-persoalan yang bersifat “universal.” Artinya, para filsuf idealisme membangun satu sistem epistemologi yang berorientasi pada rasio murni. Rasio murni bukanlah produk dari intelektual individu melainkan dasar dari embrio seluruh realitas. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa para filsuf idealisme melihat segala realitas dalam perspektif universal dan abstrak.

Bertitik tolak dari realitas yang demikian, Søren Kierkegaard membangun satu sistem filsafat yang tidak menggumuli persoalan-persoalan universal dan abstrak, melainkan persoalan-persoalan konkrit sekaligus menyentuh wilayah individu. Sebab, menurut Kierkegaard, persoalan-persoalan praktis sehari-hari itulah yang konkrit dan menjadi persolan eksistensial manusia.[2]Bagi Kierkgaard, yang konkrit itulah yang menjadi titik tolak permenungan baru tentang makna keberadaan manusia.<!–[if !supportFootnotes]–>[3]<!–[endif]–> Atas dasar inilah Kierkegaard mencetuskan konsep tentang eksistensialisme. Bagaimana Kierkegaard memahami manusia sebagai individu yang bereksistensi dan konkrit akan penulis bahas dalam paper ini.

Cetusan eksistensialisme yang digaungkan oleh Kierkegaard bertitik tolak dari bangunan filsafat idealisme Jerman. Eksistensialisme merupakan suatu gugatan terhadap filsafat idealisme yang cenderung mempersoalkan realitas secara universal dan mengabaikan eksistensi individu. Secara khusus epistemologi Kirkegaard merupakan suatu usaha untuk mendobrak “abstraksionisme” Hegel yang memutlakan Idea abstrak atau Roh sebagai kenyataan.<!–[if !supportFootnotes]–>[4]<!–[endif]–> Kierkegaard melihat bahwa ide “abstraksionisme” Hegel merupakan suatu pereduksian terhadap manusia konkrit atau individu bahkan kesadaran manusia konkrit hanyalah sebuah dialektika dalam roh.<!–[if !supportFootnotes]–>[5]<!–[endif]–> Oleh karena itu, Kierkegaard melihat Hegelianisme sebagai ancaman besar terhadap individu, karena individu dilihat tidak lebih dari sekadar titik atau percikan dalam sejarah.<!–[if !supportFootnotes]–>[6]<!–[endif]–> Dengan kata lain, Hegel mereduksi personalitas atau eksistensi manusia yang konkrit ke dalam realitas yang abstrak. Padahal, menurut Kierkegaard manusia tidak pernah hidup sebagai “Aku umum” tetapi sebagai “aku individual” dan tidak diasalkan kepada yang lain. Hanya manusia yang bereksistensi. Bereksistensi berarti bertindak sesuai dengan pilihan saya sebagai individu yang bereksistensi.<!–[if !supportFootnotes]–>[7]<!–[endif]–> Eksistensi manusia bukanlah suatu “ada” yang statis, melainkan suatu “menjadi” yang di dalamnya terkandung suatu perpindahan yaitu dari “kemungkinan” ke “kenyataan.” Oleh karena itu, Kierkegaard membedakan tiga tahap kehidupan eksistensial, yaitu tahap estetis, tahap etis dan tahap religius.

Søren Aabye Kierkegaard (lahir di Kopenhagen, Denmark, 5 Mei 1813 – meninggal di Kopenhagen, Denmark, pada tanggal 11 November 1855 dalam usia 42 tahun) adalah seorang filsuf dan teolog abad ke-19 yang berasal dari Denmark. Kierkegaard sendiri melihat dirinya sebagai seseorang yang religius dan seorang anti-filsuf, tetapi sekarang ia dianggap sebagai bapaknya filsafat eksistensialisme. Kierkegaard menjembatani jurang yang ada antara filsafat Hegelian dan apa yang kemudian menjadi Eksistensialisme. Kierkegaard terutama adalah seorang kritikus Hegel pada masanya dan apa yang dilihatnya sebagai formalitas hampa dari Gereja Denmark. Filsafatnya merupakan sebuah reaksi terhadap dialektika Hegel.

Banyak dari karya-karya Kierkegaard membahas masalah-masalah agama seperti misalnya hakikat iman, lembaga Gereja Kristen, etika dan teologi Kristen, dan emosi serta perasaan individu ketika diperhadapkan dengan pilihan-pilihan eksistensial. Karena itu, karya Kierkegaard kadang-kadang digambarkan sebagai eksistensialisme Kristen dan psikologi eksistensial. Karena ia menulis kebanyakan karya awalnya dengan menggunakan berbagai nama samaran, yang seringkali mengomentari dan mengkritik karya-karyanya yang lain yang ditulis dengan menggunakan nama samaran lain, sangatlah sulit untuk membedakan antara apa yang benar-benar diyakini oleh Kierkegaard dengan apa yang dikemukakannya sebagai argumen dari posisi seorang pseudo-pengarang. Ludwig Wittgenstein berpendapat bahwa Kierkegaard “sejauh ini, adalah pemikir yang paling mendalam dari abad ke-19″.[3][4]

  1. Kehidupan Soren Kierkegaard
    1. Latar Belakang dan Sikap Kritis Kierkegaard

Kierkegaard hidup antara tahun 1813 –1855. Ini berarti ia hidup dalam abad ke-19 di mana budaya intelektual sangat mewarnai kehidupan dan masyarakat berada dalam era teknokratik. Dalam kondisi dunia semacam ini, Kierkegaard membangun filsafat dan sikap kritisnya. Menurutnya, budaya intelektual dan masyarakat teknokratik yang diangung-agungkan saat itu menyimpan konsekuensi-konsekuensi negatif. [1] http://amadeo.blog.com/repository/1172048/3803939.jpg

Salah satu konsekuensi negatif yang menjadi pusat perhatian Kierkegaard adalah kemampuan abstraksi.[2] Artinya ada trend umum saat itu di mana kenyataan-kenyataan konkrit dilepaskan dari ciri-ciri khusus kekonkritannya untuk dilihat sifat-sifat umumnya. Dengan cara itu ditemukan hukum-hukum umum di balik kenyataan. Konsekuensinya semakin berlaku umum, semakin obyektiflah kualitas dan semakin obyektif berarti semakin benar.

Menurut Kierkegaard, cara pandang ini menyulut persoalan baru. Mengapa? Karena bagi dia, obyektifitas lebih kerap berarti disetujui umum. Ini berarti ukuran kebenaran adalah pendapat umum. Apa yang tidak sesuai dengan consensus umum berarti tidak obyektif dan tidak benar. Pada titik ini, menurut Kierkegaard, masyarakat jatuh dalam bahaya budaya massa yang kemudian dipengaruhi atau dipupuk oleh berkembangnya media massa yang dengan mudah, murah, dan efektif membentuk opini-opini publik. Ia menilai, budaya massa semacam ini pertama-tama berpengaruh negatif bagi moral manusia sebagai individu. Budaya massa mengakibatkan demoralisasi. Artinya, budaya massa cendrung menyeragamkan suara hati dan mengurangi tanggungjawab individu. Budaya massa sekaligus memiliki karakteristik publik. Pada hal figure publik adalah sesuatu yang kabur, garang. Ia adalah segala hal sekaligus bukan apapun juga. Ia adalah kekuatan yang paling berbahaya serentak sesuatu yang paling tak bermakna. Kierkegaard menegaskan, orang bisa saja bicara atas nama publik tapi publik itu tetap bukan sosok nyata siapapun. Publik itu identitas semu, konsep abstrak, tak berwajah dan tak bernama. Publik bukanlah suatu generasi, bangsa, paguyuban atau pun masyarakat karena dalam publik tidak ada seoang pun yang mempunyai komitmen sungguhan. Dalam masyarakat modern, kata Kierkegaard, wajah publik yang paling konkrit itu adalah pers.

Pengaruh negatif kedua dari budaya massa adalah menghilangkan interioritas individu sebagai subyek. Pengaruh budaya massa membuat orang tidak berani mengikuti suara hatinya sendiri. Kenyataan particular dan subyektif seakan-akan merupakan suatu anomaly. Tidak ikut trend umum adalah kebodohan. Maka, yang terpenting bagi individu adalah berusaha supaya pola pikir dan perilakunya sesuai dengan tuntutan umum. Konsekuensinya, orang menjadi dangkal. Hidup adalah rangkaian fakta-fakta belaka. Hidup adalah rangkaian peristiwa yang berserakan tanpa nilai dan makna. Padahal, seharusnya hidup adalah sebuah perjalanan nilai, rangkaian keputusan dan komitmen pribadi pada nilai-nilai yang semakin tinggi. Hidup adalah sebuah tugas.[3]

Pengaruh negatif ketiga dari budaya massa adalah berubahnya pola berkumpul individu dari pola kekeluargaan ke pola asosiasi. Bagi Kierkegaard, asosiasi yang terdiri dari individu-individu yang lemah dan tak berkepribadian itu menjijikkan bagai perkawinan anak di bawah usia.

Pengaruh negatif keempat dari budaya massa adalah berubahnya hakekat heroisme. Mengapa? Karena dalam budaya intelektual, tidak ada tempat untuk passi (gairah, nafsu). Tidak ada tempat untuk keberanian dan antuasiasme moral. Semua itu diganti oleh ketrampilan atau skill. Orang sering kagum terhadap tokoh yang berketrampilan tinggi. Namun, kekaguman itu tanpa passi karena sering juga pahlawan itu canggih dalam bidang-bidang yang sebenarnya tidak penting. Misalnya, kekaguman terhadap orang yang berjalan mundur sekian ribu kilometer. Dengan ini mau ditekankan bahwa pahlawan dalam dunia modern tidak lagi merupakan symbol kesungguhan moral dan heroisme eksistensial, melainkan sekedar symbol prestasi. Anehnya, pahlawan jenis inilah yang lebih popular. Kenyataan ini menurut Kierkegaard menunjukan kedangkalan hidup manusia modern.

Pengaruh negatif kelima dari budaya massa berkaitan dengan implikasi dari ideal persamaan derajat manusia. Dalam ideal itu, diyakini bahwa semua orang memiliki hak yang sama. Akibatnya, semua orang harus memberi andil bagi hidup bersama; misalnya dalam pemerintahan. Ini, sangat dimungkinkan dalam dunia modern oleh perkembangan pers. Pers menjadikan suara publik menentukan sesuatu secara efektif, meski pada taraf non formal. Pers memungkinkan massa menjadi konsep abstrak, menjadi publik yang berisikan individu-individu yang tidak real dan tak bisa diorganisasikan. Ironisnya, publik memiliki kekuatan pengaruh yang sangat mutlak. Individu sangat diagungkan dalam imajinasi, tapi dalam kenyataan konkret, ia tak punya arti.

Dalam konteks budaya modern semacam inilah Kierkegaard membangun filsafat khasnya. Ia menghimbau individu untuk hidup berdasarkan eksistensi yang lebih bertanggungjawab dan tidak larut dalam budaya massa. Ia ingin agar individu menjadi subyek yang otentik. Persisnya, menurut dia, untuk mencapai subyek yang otentik itu tidak hanya dengan cara menguasai realitas secara rasional dan konseptual, tidak juga sekedar refleksi intelektual, tapi harus melalui pilihan, keputusan, dan komitmen yang dilandasi oleh passi, antusiasme, rasa, dan kehendak bebas.

Konsep Eksistensi Menurut Søren Kierkegaard

Cetusan “eksistensi” yang dipondasikan oleh Kierkegaard bertitik tolak dari gagasannya tentang manusia sebagai individu atau persona yang bereksistensi dan konkrit. Ia melihat bahwa hal yang paling mendasar bagi manusia adalah keadaan dirinya atau eksistensi dirinya.<!–[if !supportFootnotes]–>[8]<!–[endif]–> Menurut Kierkegaard, eksistensi hanya dapat diterapkan kepada manusia sebagai individu yang konkrit, karena hanya aku individu yang konkrit ini yang bereksistensi, yang sungguh-sungguh ada dan hadir dalam realitas yang sesungguhnya. Oleh karena itu, aku yang konkrit ini tidak dapat direduksi kepada realitas-realitas lain, sebab jika aku yang konkrit ini direduksi ke dalam realitas-realitas yang lain itu, maka realitas diriku yang sesungguhnya sebagai individu yang bereksistensi tercampur dengan realitas-realitas itu. Dengan demikian, aku individu yang konkrit ini tidak memiliki kebebasan untuk mengembangkan dan mewujudkan diriku sebagaimana adanya karena aku tergantung kepada realitas-realitas itu. Ketergantunganku kepada realitas-realitas itu membuat aku tidak bisa untuk merealisasikan diriku sebagaimana aku kehendaki. Padahal menurut Kierkegaard, eksistensi manusia justru terjadi dalam kebebasannya.<!–[if !supportFootnotes]–>[9]<!–[endif]–>

Menurut Kierkegaard, bereksistensi bukan berarti hidup dalam pola-pola abstrak dan mekanis, tetapi terus menerus mengadakan pilihan-pilihan baru secara personal dan subjektif.<!–[if !supportFootnotes]–>[10]<!–[endif]–> Dengan kata lain, eksistensi manusia merupakan suatu eksistensi yang dipilih dalam kebebasan. Bereksistensi berarti bereksistensi dalam suatu perbuatan yang harus dilakukan oleh setiap orang bagi dirinya sendiri. Pilihan bukanlah soal konseptual melainkan soal komitmen total seluruh pribadi individu. Berangkat dari kebebesan sebagai corak bereksistensi, Kierkegaard dengan demikian tidak menempatkan individu ke dalam realitas yang abstrak tetapi individu dilihat sebagai satu pribadi yang sungguh-sungguh hadir dan konkrit. Oleh karena itu, dalam mengambil keputusan, hanya aku yang konkrit ini yang dapat mengambil keputusan atas diriku sendiri dan bukan orang lain. Orang lain tidak berhak untuk menentukan pilihanku dalam mengambil suatu keputusan atas apa yang aku lakukan. Oleh karena itu, menurut Kierkegaard, barangsiapa yang tidak berani mengambil keputusan, maka ia tidak bereksistensi dalam arti yang sebenarnya. Hanya orang yang berani mengambil keputusanlah yang dapat bereksistensi karena dengan mengambil keputusan atas pilihannya sendiri, maka dia akan menentukan kemana arah hidupnya.<!–[if !supportFootnotes]–>[11]<!–[endif]–>

  1. Kritik Soren Kierkegaard terhadap Sistem Pengetahuan
  2. Sistem dan Metode Ilmu yang Ditawarkan Soren Kierkegaard

2. Filsafat Kierkegaard: Tiga Tahap Eksistensi Manusia.

Menurut Kierkegaard, dalam haru biru , simpang siur budaya modern, manusia harus kembali mendarat pada keadaannya atau eksistensinya sendiri. Namun, keadaan atau eksistensi diri yang dinamis yang selalu berpindah dari kemungkinan ke kenyataan di mana hal itu terjadi karena perbuatan bebas pilihan manusia. Jadi, eksistensi manusia adalah suatu eksistensi yang dipilih dalam kebebasan. Bereksistensi dalam arti berada dalam suatu perbuatan yang wajib dilakukan setiap orang bagi dirinya sendiri. Bereksistensi bearti berani mengambil keputusan yang menentukan hidup. Maka, orang yang tidak berani mengambil keputusan, itu berarti ia tidak bereksistensi dalam arti yang sebenarnya. Bereksistensi berarti berupaya untuk semakin mewujudkan diri, semakin menjadi individu yang otentik. Semakin otentik berarti semakin menjadi makluk rohani.

Proses ini, menurut Kierkegaard dilalui lewat tiga tahap; Estetik, Etik, dan Religius di mana masing-masingnya memiliki ciri serta warna dan tuntutan yang khas. Masing-masing tahap itu membawa manusia untuk tegas pada posisi eksistensi dirinya sendiri. Kekhasan-kekhasan tiap tahap itulah yang mewarnai isi tulisan ini.

Tahap Estetik

Terminologi estetis berasal dari kata Yunani, yang berarti mengindrai, mencecap. Menurut Kierkegaard, pada tahap ini, individu diombang-ambingkan oleh dorongan-dorongan indrawi dan emosi-emosinya. Akibatnya, individu yang berada dalam tahap ini tidak mencapai suatu kesatuan batiniah yang terungkap dalam satu pendirian dan kematangan pribadi. Dengan kata lain, individu masih dihadapkan pada realitas-realitas perasaan yang menyenangkan tanpa memperhitungkan apakah perasaan itu baik atau tidak. Pada tahap ini, individu memiliki keinginan yang besar untuk menikmati seluruh pengalaman emosi dan nafsu. Oleh karena itu, menurut Kierkegaard tidak ada ukuran-ukuran moral yang umum atau keyakinan iman yang ditetapkan untuk membatasi ruang gerak individu. Maka salah satu persoalan yang ditakuti oleh individu pada tahap ini adalah rasa tidak enak dan kebosanan.

Kendatipun tahap ini merupakan tahap rendah dalam eksistensi manusia, namun tahap ini tetap disebut sebagai tahap eksistensial, karena pada tahap ini setiap individu memiliki pilihan bebas atas situasi-situasi yang dia hadapi. Bagaimana memahami pilihan ini, Kierkegaard menampilkan tiga pahlawan estetis dari kebudayaan Barat, yaitu Don Juan seorang tokoh dalam opera Mozart, Faust seorang tokoh ciptaan Goethe, dan Ahasuerus seorang Yahudi yang dalam pengembaraannya tidak percaya kepada Allah maupun manusia. Menurut Kierkegaard, ketiga tokoh ini merupakan perwakilan dari rasa kebosanan dan keputusasaan. Misalnya: Don Juan memiliki rasa kebosanan keputusasaan karena apa yang dia menikmati terus menerus terulang. Demikian pula dengan Faust yang menghadapai berbagai tantangan merasa ragu apakah dia mampu untuk menemukan kebahagiaan dalam hidupnya. Sedangkan Ahasueres menurut Kierkegaard merupakan personifikasi dari keputuasasaan karena ia memiliki realitas hidup yang tidak jelas.

Orang-orang yang hidup pada tahap eksistensi ini setidaknya memiliki tiga ciri. Ciri pertama, mereka lebih mengutamakan mengutamakan kepuasan (plaisure) baik fisik maupun batin. Maka, motivasi dasar perilaku mereka adalah mencari kepuasan. Mereka cenderung membiarkan dirinya dikuasai oleh naluri-naluri sensual dan mood. Apa yang baik baginya adalah yang sesuai dengan mood hidupnya saat itu. Konsekuensinya, segala bentuk realitas, bagi mereka, hanya menjadi medan kemungkinan. Artinya, realitas yang hadir dan ditawarkan di hadapannya hanya menjadi berarti sejauh realitas itu berguna mendatangkan kepuasan bagi dirinya. Dengan kata lain, hidup mereka sangat tergantung pada kenyataan akan kemungkinan di luar dirinya. Tanpa itu, mereka tak berdaya, tanpa arti. Hidup menjadi sesuatu yang bisa sangat membosankan. Sosok manusia dengan cirri dasar ini, oleh Kierkegaard diibaratkan seperti kumbang yang kerjanya menghisap madu dari bunga ke bunga. Lelaki hidung belang yang cenderung hanya mencari nikmat ragawi.

Ciri kedua, mereka tidak memiliki komitmen pada realitas konkret. Artinya, mereka cenderung melihat kenyataan selalu dalam jarak dan imajinasi. Maka, tidak heran hidup mereka sarat dengan refleksi tentang tata nilai, soal nasib buruk yang menimpa umat manusia, perihal hidup bersama yang harmonis dalam keberbedaan, dan sebagainya. Dengan ini, terpatri kesan sepintas lalu seolah-olah mereka demikian menghayati dan bahkan ikut menanggung tragedy umat manusia. Padahal sesungguhnya semua itu mereka hayati hanya dalam imajinasi. Hidup mereka sungguh-sungguh tidak realistis. Mereka punya inteligensi tapi tak punya intensitas pengalaman. Mereka berbicara banyak tapi tidak atas dasar pengalaman langsung. Mereka Cuma memunguti dan mengolah pengalaman-pengalaman second-hand, bukan pengalaman-pengalaman primer atau asli. Oleh karena itu, ungkapan-ungkapan tertinggi mereka paling banter berupa ungkapan verbal atau simbol-simbol seni. Boleh jadi juga, ungkapan mereka merupakan teori-teori ilmiah yang canggih dan mencengangkan atau pun karya seni yang bermutu tinggi tapi sebenarnya tanpa jiwa, kosong, dan kering.

Ciri ketiga, mereka cenderung mengelak dari antuasiasme yang lebih mendalam. Mereka takut terlibat pada sesuatu yang menuntut lebih seperti menikah atau loyalitas pada organisasi tertentu. Dengan menikah, mereka takut dituntut mengikatkan diri pada institusi perkawinan. Dengan berorganisasi, mereka tak mau dituntut untuk mengikuti aturan main yang ada dalam organisasi bersangkutan. Ini berarti mereka tidak mau mengikatkan diri pada standart moral tertentu. Mereka lebih senang hidup tanpa ikatan, hidup sendirian dan bagi dirinya sendiri saja. Bahkan pola hidup semacam ini menurut Kierkegaard adalah pola hidup statis tanpa evolusi khas manusia. Pola hidup mereka yang demikian bisa dinilai tidak lebih dari tanaman dan binatang. Ironi tapi fakta.

Cepat atau lambat, sejauh mereka masih tetap manusia, pola hidup semacam ini akan berakhir dalam keputusasaan yang mendalam, karena hidup tanpa standart moral yang mengikat berarti hidup tanpa kerangka makna, hidup yang lulu-lanta, berantakan. Pada titik inilah, orang baru akan sadar untuk mengikatkan diri pada standar moral tertentu. Mereka baru akan sadar untuk memiliki komitmen pada realitas konkret. Keberanian untuk masuk dalam kawasan ini mengandaikan bahwa mereka telah memilih masuk ke dalam suatu tahap baru yang lebih dewasa, yakni tahap etik.


[1] Terhadap fenomena ini, banyak filsuf tampil memberi reaksi. Salah satu di antaranya adalah Kierkegaard yang detail reaksinya dikupas dalam Makalah ini. Intinya, ia menaruh perhatian besar pada perjuangan eksistensi manusia yang menurutnya diabaikan oleh banyak filsuf (terutama Hegel) dalam pembahasannya

[2] Sugiharto Bambang dan Agus Rahmat Widiyanto, 2000. Wajah Agama dan Etika, Kanisius: Yogyakarta

[3] Menurut Martin Heidegger, hal ini berkenaan dengan cara manusia memaknai waktu. Menurutnya, pada saat-saat semacam itu, orang lebih memandang waktu sebagai Chronos, yakni waktu dipahami sebagai rangkaian acara dan jadwal yang terus datang, lenyap, lalu datang lagi. Memang benar, orang yang hidup dalam cara pandang terhadap waktu yang demikian, akan mudah merasa kosong bila tak ada kegiatan. Sebaliknya, bisa juga menjadi bosan kalau acaranya terlalu padat. Waktu menjadi musuh. Di lain pihak, Heidegger menunjukkan bahwa waktu juga bisa dilihat sebagai Chairos, yakni waktu sebagai kesempatan untuk berkembang. Secara ideal, menurut Heidegger, harus ada perubahan cara pandang terhadap waktu dari Chronos menjadi Chairos

Dipublikasi di Uncategorized | Tag , , , | Tinggalkan komentar