METODE PEMBELAJARAN ALA NABI (Studi atas Keragaman Ungkapan Hadis Nabi)

  1. A. Latar Belakang Masalah

Seluruh kegiatan pembelajaran yang dilakukan, baik pembelajaran formal maupun pembelajaran informal, diarahkan untuk menggapai tujuan pendidikan. Menurut Muhammad Amin, pendidikan sejatinya tidak hanya mencakup dimensi akal, tetapi juga merambah dimensi badan, perasaan, kehendak, dan seluruh unsur kejiwaan manusia serta bakat-bakat dan kemampuannya. Dengan demikian, pendidikan merupakan upaya untuk mengembangkan bakat dan kemampuan individual, sehingga potensi-potensi kejiwaan itu dapat diaktualisasikan secara sempurna.[1]

Lebih jauh, Abuddin Nata menyimpulkan bahwa tujuan pendidikan adalah membina manusia agar menjadi khalifah Allah di muka bumi. Akan tetapi, implementasi tujuan pendidikan tersebut harus disesuaikan dengan situasi dan kondisi suatu masyarakat, terutama peserta didik. Dengan demikian, implementasi tujuan pendidikan tersebut disesuaikan dengan bakat dan keahlian yang dimiliki oleh masing-masing peserta didik.[2]

Untuk mencapai tujuan pendidikan sebagaimana yang diharapkan, diperlukan suatu startegi dan teknik yang sering dikenal dengan metode pembelajaran. Secara definitif, metode pembelajaran adalah suatu cara atau jalan yang ditempuh yang sesuai dan serasi untuk menyajikan suatu hal sehingga akan tercapai suatu tujuan pembelajaran yang efektif dan efisien sesuai dengan yang diharapkan.[3]

Ada beragam metode pembelajaran yang sering digunakan oleh para pendidik dalam kegiatan belajar-mengajar. Di antaranya adalah metode ceramah, metode tanya-jawab, metode diskusi, metode sosio-drama (role playing), metode kerja kelompok, metode pemecahan masalah (problem solving), metode karyawisata (field-trip), metode survai masyarakat, dan sebagainya.[4]

Sebenarnya, urgensi penggunaan metode pembelajaran dalam dunia pendidikan telah diisyaratkan oleh Allah swt. dalam Al-Qur’an.

اُدْعُ إِلَى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيْلِهِ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ %

Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhan-mu, Dia-lah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dia-lah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk. (Q.S. an-Nahl [16]: 125)

Secara tersirat, dalam ayat di atas terkandung tiga metode pembelajaran, yaitu h}ikmah (kebijaksanaan), mau’id}ah h}asanah (nasihat yang baik), dan muja>dalah (dialog dan debat).

Demikian juga dalam hadis Nabi, banyak terkandung beragam metode pembelajaran yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad saw. Salah satunya adalah hadis berikut ini.

يَسِّرُوْا وَلَا تُعَسِّرُوْا وَبَشِّرُوْا وَلَا تُنَفِّرُوْا

Mudahkanlah dan janganlah kamu mempersulit. Gembirakanlah dan janganlah kamu membuat mereka lari. (H.R. Bukhari, Kitab al-‘Ilm, No. 67)[5]

Dalam hadis di atas, secara tersirat Rasulullah saw. memerintahkan kepada kita untuk menyelenggarakan suatu kegiatan pembelajaran yang menyenangkan dan tidak sulit. Inilah sebenarnya salah satu metode yang cukup ideal dan bisa memberikan hasil yang optimal.

Selain hadis di atas, masih banyak hadis lain yang mengisyaratkan metode pembelajaran ala Nabi, atau dengan kata lain prophetic learning, pembelajaran berbasis kenabian. Dengan menelaah sejumlah hadis Nabi, Abd al-Fattah Abu Ghuddah menemukan 40 strategi pembelajaran yang secara tersirat dicontohkan oleh Rasulullah saw. Di antaranya adalah metode keteladanan dan akhlak mulia, metode pembelajaran secara bertahap, metode pembelajaran dengan memerhatikan situasi dan kondisi peserta didik, metode tamsil, metode isyarat, dan metode tanya-jawab.[6]

Dari penelusuran sekilas terhadap sumber utama ajaran Islam di atas, yakni Al-Qur’an dan hadis, penulis menyimpulkan bahwa sebenarnya ajaran Islam mengandung sumber inspirasi yang tidak akan pernah kering untuk mengembangkan ilmu pengetahuan, khususnya untuk mengembangkan metode pembelajaran. Akan tetapi, pertanyaannya adalah kenapa dunia pendidikan, khususnya metode pembelajaran, di Barat lebih maju dan lebih berkembang daripada di dunia Islam?

Hal ini terbukti dengan begitu kreatif dan inovatifnya dunia pendidikan Barat dalam mengembangkan metode pembelajaran. Dengan menggandeng ilmu psikologi, bermunculanlah berbagai macam inovasi dalam dunia pendidikan Barat. Di antaranya, Bobbi DePorter dan Mike Hernacki menemukan teori quantum learning, Bobbi DePorter, Mark Reardon, dan Sarah Singer-Nouri merumuskan teori quantum teaching, Dave Meier menggagas teori accelerated learning, Howard Gardner mengusulkan pembelajaran berbasis multiple intelligences, serta Elaine B. Johnson mengajukan teori contextual teaching and learning (CTL).

Berangkat dari keprihatinan dalam melihat kemandekan dunia pendidikan Islam, penulis merasa tergelitik untuk ikut memberikan sumbang saran terhadap dunia pendidikan Islam dengan mencoba merumuskan metode pembelajaran yang tersirat dalam hadis Nabi. Metode pembelajaran ini penulis sebut dengan istilah prophetic learning,[7] pembelajaran berbasis kenabian.

Kenapa harus bersumber dari hadis Nabi? Jawabannya adalah sebagai berikut. Hadis Nabi yang jumlahnya ribuan bahkan ratusan ribu mengandung aneka nilai yang cukup kaya. Itu semua merupakan sumber inspirasi yang tidak akan pernah habis untuk mengembangkan ilmu pengetahuan, termasuk di dalamnya metode pembelajaran. Dengan demikian, penulis memberanikan diri untuk mengungkap sumber tersebut dalam usaha merumuskan metode pembelajaran yang lebih inovatif dengan tetap berpegang teguh pada ajaran dan nilai-nilai Islam.

Kajian yang penulis lakukan hampir sama dengan yang ditempuh oleh Abd al-Fattah Abu Ghuddah dalam 40 Strategi Pembelajaran Rasulullah. Perbedaannya terletak pada fokus kajian. Jika Abd al-Fattah Abu Ghuddah memfokuskan kajiannya pada materi atau kandungan hadis Nabi, maka penulis akan melihatnya dari sisi metode Nabi dalam bersabda atau ungkapan hadis Nabi. Sebagaimana tersurat dalam sabda-sabda Rasulullah saw., Rasulullah saw. merupakan sosok pribadi yang cerdas dan inovatif. Hal ini terbukti dengan begitu beragamnya ungkapan hadis Nabi. Dalam telaah M. Syuhudi Ismail, ada lima macam ungkapan hadis Nabi, yaitu jawa>mi’ al-kalim, bahasa tamsil, ungkapan simbolik, bahasa percakapan, dan ungkapan analogi.[8] Keragaman ungkapan Nabi ini sesungguhnya mengisyaratkan keragaman metode Nabi dalam mendidik para sahabatnya.

  1. B. Rumusan Masalah

Bertolak dari uraian latar belakang masalah di atas, maka pokok permasalahan yang akan dikaji sebagai berikut.

  1. Bagaimana metode pembelajaran ala Nabi sebagaimana tersirat dalam keragaman ungkapan hadis Nabi?
  2. Bagaimana strategi penerapan metode pembelajaran ala Nabi dalam pendidikan Islam?
  1. C. Tujuan dan Kegunaan Penelitian

Tujuan penelitian ini adalah:

  1. Untuk mengetahui metode pembelajaran ala Nabi sebagaimana tersirat dalam keragaman ungkapan hadis Nabi.
  2. Untuk merumuskan strategi penerapan metode pembelajaran ala Nabi dalam pendidikan Islam.

Adapun kegunaan penelitian ini adalah:

  1. Memberikan pandangan kepada para praktisi pendidikan bahwa Al-Qur’an dan hadis sesungguhnya merupakan sumber inspirasi yang tidak akan pernah kering untuk mengembangan pendidikan Islam, khususnya mengembangkan metode pembelajaran yang lebih kreatif, inovatif, dan memberdayakan.
  2. Memberikan kontribusi pada dunia pendidikan Islam dalam wilayah konsep dan metode pembelajaran berbasis kenabian (prophetic learning).
  1. D. Kajian Pustaka

Karya tulis yang menjadikan metode pembelajaran sebagai objek kajian bukanlah hal yang baru di dunia akademik. Sebelumnya, sudah ada beberapa penelitian yang mencoba mengelaborasi metode pembelajaran dalam dunia pendidikan. Di antaranya sebagai berikut.

Falsafah Pendidikan Islam karya Omar Mohammad al-Toumy al-Syaibany, khususnya bab IX tentang falsafah metode mengajar dalam pendidikan Islam.[9] Secara umum, buku ini berbicara tentang beberapa landasan filosofis yang mendasari pendidikan Islam, di antaranya pandangan Islam tentang jagat raya, pandangan Islam tentang manusia, pandangan Islam tentang masyarakat, prinsip-prinsip yang menjadi dasar teori pengetahuan pada pemikiran Islam, dan prinsip-prinsip yang menjadi dasar teori akhlak dalam Islam. Selain itu, dalam buku ini, Omar Mohammad al-Toumy al-Syaibany juga menjelaskan beberapa konsep pendidikan Islam tentang tujuan pendidikan, kurikulum, dan metode mengajar.

Walaupun bercampur dengan tema lain, paparan al-Toumy tentang metode mengajar dalam pendidikan Islam cukup mendasar dan komprehensif. Di antaranya al-Toumy menjelaskan konsep metode mengajar dalam pendidikan Islam, metode-metodenya secara umum, ciri-ciri, tujuan, dan asas-asas metode mengajar, serta prinsip-prinsip utama metode mengajar.[10]

Selanjutnya, Ismail S.M. dalam buku Strategi Pembelajaran Agama Islam Berbasis PAIKEM: Pembelajaran Aktif, Inovatif, Kreatif, Efektif, dan Menyenangkan[11] mencoba memberikan gambaran komprehensif tentang strategi pembelajaran PAIKEM, mulai pengertian strategi pembelajaran PAIKEM, landasannya, ciri-cirinya, prinsip-prinsipnya, dan strategi penerapan pembelajaran PAIKEM di ruang-ruang kelas.[12]

Selain menjelaskan strategi pembelajaran PAIKEM, di awal pembahasan, Ismail mencoba memberikan landasan dengan memberikan penjelasan tentang konsep metode pembelajaran dalam pendidikan Islam. Ismail juga memaparkan beberapa metode pembelajaran yang sering dipakai di dunia pendidikan, seperti metode ceramah, metode tanya-jawab, metode diskusi, dan sebagainya.[13]

Di samping dua karya yang membahas metode pembelajaran konvensional di atas, ada beberapa karya yang mengkaji metode pembelajaran kontemporer. Berikut ini adalah beberapa karya yang menggagas metode pembelajaran kontemporer.

Quantum Learning: Membiasakan Belajar Nyaman dan Menyenangkan karya Bobbi DePorter dan Mike Hernacki.[14] Buku ini berisi beberapa konsep penerapan teori quantum dalam lapangan fisika ke dalam dunia pendidikan. Dengan teori quantum ini, Bobbi DePorter dan Mike Hernacki berharap, belajar yang selama ini membosankan dan bahkan menakutkan akan berubah menjadi menyenangkan dan bisa memberikan lompatan hasil yang luar biasa.

Quantum Teaching: Mempraktikkan Quantum Learning di Ruang-ruang Kelas karya Bobbi DePorter, Mark Reardon, dan Sarah Singer-Nourie[15] merupakan kelanjutan dari buku Quantum Learning: Membiasakan Belajar Nyaman dan Menyenangkan karya Bobbi DePorter dan Mike Hernacki. Buku Quantum Teaching berisi kiat-kiat praktis bagaimana menerapkan teori quantum learning di ruang-ruang kelas. Dengan kata lain, kalau Quantum Learning berisi konsep-konsep teoritis, maka buku Quantum Teaching berisi konsep-konsep praktis.

Selain dua buku ini, ada juga buku The Accelerated Learning Handbook: Panduan Kreatif dan Efektif Merancang Program Pendidikan dan Pelatihan karya Dave Meier.[16] Kalau dua buku sebelumnya ingin mengondisikan suasana belajar yang menyenangkan dan tidak membosankan, buku The Accelerated Learning Handbook ini berupaya menyajikan pembelajaran yang mampu meningkatkan dan mempercepat kemampuan belajar dan hasil belajar. Untuk menggapai tujuan tersebut, Dave Meier, menawarkan metode pembelajaran yang berusaha melibatkan lima indra dan emosi dalam proses belajar. Selanjutnya, metode pembelajaran yang digagas oleh Dave Meier ini dikenal dengan sebutan Pendekatan SAVI (Somatis-Auditori-Visual-Intelektual).

Selanjutnya, buku Sekolah Para Juara: Menerapkan Multiple Intelligences di Dunia Pendidikan karya Thomas Armstrong.[17] Buku ini menjelaskan beberapa landasan teoritis dan kiat-kiat praktis menerapkan teori multiple intelligences di ruang-ruang kelas. Teori multiple intelligences merupakan salah satu lompatan istimewa dalam dunia pendidikan. Teori yang digagas oleh Howard Gardner ini menyatakan bahwa kecerdasan manusia sangat beragam, meliputi kecerdasan linguistik, matematis-logis, spasial, kinestetis-jasmani, musikal, interpersonal, intrapersonal, dan naturalis.

Dan, gagasan paling mutakhir tentang kegiatan belajar-mengajar datang dari Elaine B. Johnson. Lewat Contextual Teaching and Learning: Menjadikan Kegiatan Belajar-Mengajar Mengasyikkan dan Bermakna, Elaine B. Johnson menawarkan satu metode pembelajaran yang dikenal dengan sebutan Contextual Teaching and Learning (CTL). Contextual Teaching and Learning (CTL) adalah sebuah sistem belajar yang didasarkan pada filosofi bahwa seorang pembelajar akan mau dan mampu menyerap materi pelajaran jika mereka dapat menangkap makna dari pelajaran tersebut. Dalam buku ini, Elaine B. Johnson  memaparkan konsep Contextual Teaching and Learning (CTL) dan beberapa strategi penerapannya di ruang-ruang kelas.[18]

Selanjutnya, karya yang cukup mewakili penelitian tentang keragaman ungkapan hadis Nabi adalah Hadis Nabi yang Tekstual dan Kontekstual: Telaah Ma’ani al-Hadits tentang Ajaran Islam yang Universal, Temporal, dan Lokal karya M. Syuhudi Ismail.[19] Semula karya ini merupakan naskah pidato pengukuhan guru besar di hadapan Rapat Senat Terbuka Luar Biasa IAIN Alauddin Ujung Pandang pada tanggal 26 Maret 1994 yang kemudian diterbitkan oleh Penerbit Bulan Bintang Jakarta. Secara umum, buku ini berbicara tentang keragaman makna hadis Nabi, meliputi hadis Nabi yang mengandung makna yang universal, temporal, dan lokal. Selain itu, dalam buku ini, M. Syuhudi Ismail juga memaparkan keragaman ungkapan hadis Nabi yang meliputi jawa>mi’ al-kalim, bahasa tamsil, ungkapan simbolik, bahasa percakapan, dan ungkapan analogi.

Selain karya di atas, buku 40 Strategi Pembelajaran Rasulullah karya Abd al-Fattah Abu Ghuddah juga layak diperhitungkan.[20] Dalam buku ini, Abd al-Fattah Abu Ghuddah menegaskan bahwa sejatinya Rasulullah adalah seorang guru. Dengan demikian, beberapa ucapan dan perilaku Rasulullah diarahkan untuk mendidik para sahabatnya. Kemudian, lewat penelusuran beberapa hadis Nabi, Abd al-Fattah Abu Ghuddah berhasil menghimpun 40 strategi pembelajaran yang dipakai Rasulullah dalam membina para sahabat.

Itulah beberapa penelitian yang mencoba melihat keragaman metode pembelajaran dalam dunia pendidikan dan perkembangannya serta beberapa karya yang mengulas keragaman ungkapan hadis Nabi. Semua penelitian yang telah dikemukakan di atas tentunya tidak bisa meng-cover keseluruhan wacana yang berkembang di seputar metode pembelajaran dan keragaman ungkapan hadis Nabi. Sebab, masih banyak penelitian serupa yang tidak bisa disebutkan satu-persatu di sini.

Selanjutnya, penelitian ini ingin mengkaji lebih jauh prinsip dan metode pembelajaran berbasis kenabian (prophetic learning). Tidak seperti perkembangan metode pembelajaran kontemporer yang mendasarkan kajiannya pada aspek psikologi manusia, penelitian ini melandaskan analisisnya pada keragaman ungkapan hadis Nabi yang di dalamnya tersirat metode pembelajaran yang sangat kaya dan beragam. Dengan demikian, penelitian ini menggabungkan dua wilayah sekaligus yang saling berkait dan berkelindan, yakni wilayah pendidikan dan wilayah ilmu hadis.

  1. E. Kerangka Teoritik
    1. Metode Pembelajaran

Secara bahasa, metode berasal dari bahasa Yunani, methodos, yang terdiri atas dua kata, yaitu metha yang berarti melalui atau melewati dan hodos yang berarti jalan atau cara. Dengan demikian, secara bahasa, metode adalah suatu jalan yang dilalui untuk mencapai tujuan.[21]

Secara terminologis, metode adalah jalan yang ditempuh oleh seseorang supaya sampai pada tujuan tertentu, baik dalam lingkungan atau perniagaan maupun dalam kaitan dengan ilmu pengetahuan dan yang lainnya. Adapun metodologi adalah ilmu yang mempelajari tentang metode.[22]

Sementara itu, metode pembelajaran adalah suatu cara atau jalan yang ditempuh yang sesuai dan serasi untuk menyajikan suatu hal sehingga akan tercapai suatu tujuan pembelajaran yang efektif dan efisien sesuai dengan yang diharapkan.[23]

Dalam dunia pendidikan, metode pembelajaran menempati posisi yang cukup penting. Sebab, keberhasilan kegiatan belajar-mengajar salah satunya ditentukan oleh kesesuaian metode pembelajaran yang digunakan dengan materi pelajaran yang diajarkan atau dengan minat peserta didik. Oleh karena itu, metode pembelajaran terus berkembang dan akan terus bertambah seiring dengan perkembangan zaman dan tuntutan dunia pendidikan. Berikut ini adalah beberapa metode pembelajaran yang sering digunakan dalam kegiatan belajar-mengajar: metode ceramah, metode tanya-jawab, metode diskusi, metode sosio-drama (role playing), metode kerja kelompok, metode pemecahan masalah (problem solving), metode karyawisata (field-trip), metode survai masyarakat, dan sebagainya.[24]

  1. Metode Pembelajaran Kontemporer

Dewasa ini, dunia pendidikan tidak bisa dilepaskan dari dunia psikologi. Perkembangan dunia pendidikan sering mengikuti perkembangan dunia psikologi. Demikian juga dalam bidang metode pembelajaran. Demi memanjakan para siswa serta meningkatkan hasil belajar dan kemampuan siswa, para praktisi pendidikan kontmporer berlomba-lomba menemukan dan merumuskan aneka ragam metode pembelajaran. Eksperimen mereka dalam mengembangkan metode pembelajaran dilakukan dengan menggandeng ilmu psikologi, terutama psikologi perkembangan anak dan psikologi kepribadian.

Kerja ilmiah mereka bukan tanpa hasil. Dari kerja keras para ahli pendidikan tersebut bermunculanlah metode pembelajaran yang lebih atraktif, kreatif, menyenangkan, dan memberdayakan. Di antaranya adalah metode quantum learning, metode quantum teaching, metode accelerated learning, metode pembelajaran berbasis multiple intelligences, dan metode contextual teaching and learning (CTL).


[1]Abuddin Nata, Filsafat Pendidikan Islam (Jakarta: Gaya Media Pratama, 2005), hlm. 103.

[2]Ibid., hlm. 105.

[3]Ismail S.M., Strategi Pembelajaran Agama Islam Berbasis PAIKEM: Pembelajaran Aktif, Inovatif, Kreatif, Efektif, dan Menyenangkan (Semarang: RaSAIL Media Group bekerja sama dengan LSIS [Lembaga Studi Islam dan Sosial], 2008), hlm. 8.

[4]Ibid., hlm. 19-24.

[5]CD Mausu>’ah al-H{adi>s\ asy-Syari>f, Versi 2 (t.tp.: Global Islamic Software Company, 1997).

[6]Abd al-Fattah Abu Ghuddah, 40 Strategi Pembelajaran Rasulullah, terj. Sumedi dan R. Umi Baroroh (Yogyakarta: Tiara Wacana, 2005), hlm. 57-204.

[7]Sebenarnya istilah prophetic learning ini bukan hal yang baru. Sebelumnya istilah ini telah diperkenalkan oleh Dwi Budiyanto. Lihat Dwi Budiyanto, Prophetic Learning (Yogyakarta: Pro-U Media, 2009).

[8]M. Syuhudi Ismail, Hadis Nabi yang Tekstual dan Kontekstual: Telaah Ma’ani al-Hadits tentang Ajaran Islam yang Universal, Temporal, dan Lokal (Jakarta: Bulan Bintang, 1994), hlm. 9-31.

[9]Omar Mohammad al-Toumy al-Syaibany, Falsafah Pendidikan Islam, terj. Hasan Langgulung (Jakarta: Bulan Bintang, 1979).

[10]Ibid., hlm. 549-627.

[11]Ismail S.M., Strategi Pembelajaran Agama Islam Berbasis PAIKEM: Pembelajaran Aktif, Inovatif, Kreatif, Efektif, dan Menyenangkan (Semarang: RaSAIL Media Group bekerja sama dengan LSIS [Lembaga Studi Islam dan Sosial], 2008).

[12]Ibid., hlm. 45-69.

[13]Ibid., hlm. 7-44.

[14]Bobbi DePorter dan Mike Hernacki, Quantum Learning: Membiasakan Belajar Nyaman dan Menyenangkan (Bandung: Kaifa, 2002).

[15]Bobbi DePorter, Mark Reardon, dan Sarah Singer-Nourie, Quantum Teaching: Mempraktikkan Quantum Learning di Ruang-ruang Kelas (Bandung: Kaifa, 2002).

[16]Dave Meier, The Accelerated Learning Handbook: Panduan Kreatif dan Efektif Merancang Program Pendidikan dan Pelatihan, terj. Rahmani Astuti (Bandung: Kaifa, 2002).

[17]Thomas Armstrong, Sekolah Para Juara: Menerapkan Multiple Intelligences di Dunia Pendidikan, terj. Yudhi Murtanto (Bandung: Kaifa, 2004).

[18]Elaine B. Johnson, Contextual Teaching and Learning: Menjadikan Kegiatan Belajar-Mengajar Mengasyikkan dan Bermakna, terj. Ibnu Setiawan (Bandung: Kaifa, 2007).

[19]M. Syuhudi Ismail, Hadis Nabi yang Tekstual dan Kontekstual: Telaah Ma’ani al-Hadits tentang Ajaran Islam yang Universal, Temporal, dan Lokal (Jakarta: Bulan Bintang, 1994).

[20]Abd al-Fattah Abu Ghuddah, 40 Strategi Pembelajaran Rasulullah, terj. Sumedi dan R. Umi Baroroh (Yogyakarta: Tiara Wacana, 2005).

[21]Ismail S.M., Strategi Pembelajaran, hlm. 7.

[22]Ibid., hlm. 8.

[23]Ibid.

[24]Ibid., hlm. 19-24.

About these ads
Tulisan ini dipublikasikan di Uncategorized dan tag , . Tandai permalink.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s