EPISTEMOLOGI EKSISTENSIALISME SØREN KIERKEGAARD (Relevansi dan Implikasinya dalam Dunia Pendidikan Islam)

Oleh Yusuf Effendi, S.H.I

Bangkitanya idealisme Jerman merupakan suatu hantaman terhadap individu, karena para filsuf idealisme hanya menggeluti persoalan-persoalan yang bersifat “universal.” Artinya, para filsuf idealisme membangun satu sistem epistemologi yang berorientasi pada rasio murni. Rasio murni bukanlah produk dari intelektual individu melainkan dasar dari embrio seluruh realitas. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa para filsuf idealisme melihat segala realitas dalam perspektif universal dan abstrak.

Bertitik tolak dari realitas yang demikian, Søren Kierkegaard membangun satu sistem filsafat yang tidak menggumuli persoalan-persoalan universal dan abstrak, melainkan persoalan-persoalan konkrit sekaligus menyentuh wilayah individu. Sebab, menurut Kierkegaard, persoalan-persoalan praktis sehari-hari itulah yang konkrit dan menjadi persolan eksistensial manusia.[2]Bagi Kierkgaard, yang konkrit itulah yang menjadi titik tolak permenungan baru tentang makna keberadaan manusia.<!–[if !supportFootnotes]–>[3]<!–[endif]–> Atas dasar inilah Kierkegaard mencetuskan konsep tentang eksistensialisme. Bagaimana Kierkegaard memahami manusia sebagai individu yang bereksistensi dan konkrit akan penulis bahas dalam paper ini.

Cetusan eksistensialisme yang digaungkan oleh Kierkegaard bertitik tolak dari bangunan filsafat idealisme Jerman. Eksistensialisme merupakan suatu gugatan terhadap filsafat idealisme yang cenderung mempersoalkan realitas secara universal dan mengabaikan eksistensi individu. Secara khusus epistemologi Kirkegaard merupakan suatu usaha untuk mendobrak “abstraksionisme” Hegel yang memutlakan Idea abstrak atau Roh sebagai kenyataan.<!–[if !supportFootnotes]–>[4]<!–[endif]–> Kierkegaard melihat bahwa ide “abstraksionisme” Hegel merupakan suatu pereduksian terhadap manusia konkrit atau individu bahkan kesadaran manusia konkrit hanyalah sebuah dialektika dalam roh.<!–[if !supportFootnotes]–>[5]<!–[endif]–> Oleh karena itu, Kierkegaard melihat Hegelianisme sebagai ancaman besar terhadap individu, karena individu dilihat tidak lebih dari sekadar titik atau percikan dalam sejarah.<!–[if !supportFootnotes]–>[6]<!–[endif]–> Dengan kata lain, Hegel mereduksi personalitas atau eksistensi manusia yang konkrit ke dalam realitas yang abstrak. Padahal, menurut Kierkegaard manusia tidak pernah hidup sebagai “Aku umum” tetapi sebagai “aku individual” dan tidak diasalkan kepada yang lain. Hanya manusia yang bereksistensi. Bereksistensi berarti bertindak sesuai dengan pilihan saya sebagai individu yang bereksistensi.<!–[if !supportFootnotes]–>[7]<!–[endif]–> Eksistensi manusia bukanlah suatu “ada” yang statis, melainkan suatu “menjadi” yang di dalamnya terkandung suatu perpindahan yaitu dari “kemungkinan” ke “kenyataan.” Oleh karena itu, Kierkegaard membedakan tiga tahap kehidupan eksistensial, yaitu tahap estetis, tahap etis dan tahap religius.

Søren Aabye Kierkegaard (lahir di Kopenhagen, Denmark, 5 Mei 1813 – meninggal di Kopenhagen, Denmark, pada tanggal 11 November 1855 dalam usia 42 tahun) adalah seorang filsuf dan teolog abad ke-19 yang berasal dari Denmark. Kierkegaard sendiri melihat dirinya sebagai seseorang yang religius dan seorang anti-filsuf, tetapi sekarang ia dianggap sebagai bapaknya filsafat eksistensialisme. Kierkegaard menjembatani jurang yang ada antara filsafat Hegelian dan apa yang kemudian menjadi Eksistensialisme. Kierkegaard terutama adalah seorang kritikus Hegel pada masanya dan apa yang dilihatnya sebagai formalitas hampa dari Gereja Denmark. Filsafatnya merupakan sebuah reaksi terhadap dialektika Hegel.

Banyak dari karya-karya Kierkegaard membahas masalah-masalah agama seperti misalnya hakikat iman, lembaga Gereja Kristen, etika dan teologi Kristen, dan emosi serta perasaan individu ketika diperhadapkan dengan pilihan-pilihan eksistensial. Karena itu, karya Kierkegaard kadang-kadang digambarkan sebagai eksistensialisme Kristen dan psikologi eksistensial. Karena ia menulis kebanyakan karya awalnya dengan menggunakan berbagai nama samaran, yang seringkali mengomentari dan mengkritik karya-karyanya yang lain yang ditulis dengan menggunakan nama samaran lain, sangatlah sulit untuk membedakan antara apa yang benar-benar diyakini oleh Kierkegaard dengan apa yang dikemukakannya sebagai argumen dari posisi seorang pseudo-pengarang. Ludwig Wittgenstein berpendapat bahwa Kierkegaard “sejauh ini, adalah pemikir yang paling mendalam dari abad ke-19”.[3][4]

  1. Kehidupan Soren Kierkegaard
    1. Latar Belakang dan Sikap Kritis Kierkegaard

Kierkegaard hidup antara tahun 1813 –1855. Ini berarti ia hidup dalam abad ke-19 di mana budaya intelektual sangat mewarnai kehidupan dan masyarakat berada dalam era teknokratik. Dalam kondisi dunia semacam ini, Kierkegaard membangun filsafat dan sikap kritisnya. Menurutnya, budaya intelektual dan masyarakat teknokratik yang diangung-agungkan saat itu menyimpan konsekuensi-konsekuensi negatif. [1] http://amadeo.blog.com/repository/1172048/3803939.jpg

Salah satu konsekuensi negatif yang menjadi pusat perhatian Kierkegaard adalah kemampuan abstraksi.[2] Artinya ada trend umum saat itu di mana kenyataan-kenyataan konkrit dilepaskan dari ciri-ciri khusus kekonkritannya untuk dilihat sifat-sifat umumnya. Dengan cara itu ditemukan hukum-hukum umum di balik kenyataan. Konsekuensinya semakin berlaku umum, semakin obyektiflah kualitas dan semakin obyektif berarti semakin benar.

Menurut Kierkegaard, cara pandang ini menyulut persoalan baru. Mengapa? Karena bagi dia, obyektifitas lebih kerap berarti disetujui umum. Ini berarti ukuran kebenaran adalah pendapat umum. Apa yang tidak sesuai dengan consensus umum berarti tidak obyektif dan tidak benar. Pada titik ini, menurut Kierkegaard, masyarakat jatuh dalam bahaya budaya massa yang kemudian dipengaruhi atau dipupuk oleh berkembangnya media massa yang dengan mudah, murah, dan efektif membentuk opini-opini publik. Ia menilai, budaya massa semacam ini pertama-tama berpengaruh negatif bagi moral manusia sebagai individu. Budaya massa mengakibatkan demoralisasi. Artinya, budaya massa cendrung menyeragamkan suara hati dan mengurangi tanggungjawab individu. Budaya massa sekaligus memiliki karakteristik publik. Pada hal figure publik adalah sesuatu yang kabur, garang. Ia adalah segala hal sekaligus bukan apapun juga. Ia adalah kekuatan yang paling berbahaya serentak sesuatu yang paling tak bermakna. Kierkegaard menegaskan, orang bisa saja bicara atas nama publik tapi publik itu tetap bukan sosok nyata siapapun. Publik itu identitas semu, konsep abstrak, tak berwajah dan tak bernama. Publik bukanlah suatu generasi, bangsa, paguyuban atau pun masyarakat karena dalam publik tidak ada seoang pun yang mempunyai komitmen sungguhan. Dalam masyarakat modern, kata Kierkegaard, wajah publik yang paling konkrit itu adalah pers.

Pengaruh negatif kedua dari budaya massa adalah menghilangkan interioritas individu sebagai subyek. Pengaruh budaya massa membuat orang tidak berani mengikuti suara hatinya sendiri. Kenyataan particular dan subyektif seakan-akan merupakan suatu anomaly. Tidak ikut trend umum adalah kebodohan. Maka, yang terpenting bagi individu adalah berusaha supaya pola pikir dan perilakunya sesuai dengan tuntutan umum. Konsekuensinya, orang menjadi dangkal. Hidup adalah rangkaian fakta-fakta belaka. Hidup adalah rangkaian peristiwa yang berserakan tanpa nilai dan makna. Padahal, seharusnya hidup adalah sebuah perjalanan nilai, rangkaian keputusan dan komitmen pribadi pada nilai-nilai yang semakin tinggi. Hidup adalah sebuah tugas.[3]

Pengaruh negatif ketiga dari budaya massa adalah berubahnya pola berkumpul individu dari pola kekeluargaan ke pola asosiasi. Bagi Kierkegaard, asosiasi yang terdiri dari individu-individu yang lemah dan tak berkepribadian itu menjijikkan bagai perkawinan anak di bawah usia.

Pengaruh negatif keempat dari budaya massa adalah berubahnya hakekat heroisme. Mengapa? Karena dalam budaya intelektual, tidak ada tempat untuk passi (gairah, nafsu). Tidak ada tempat untuk keberanian dan antuasiasme moral. Semua itu diganti oleh ketrampilan atau skill. Orang sering kagum terhadap tokoh yang berketrampilan tinggi. Namun, kekaguman itu tanpa passi karena sering juga pahlawan itu canggih dalam bidang-bidang yang sebenarnya tidak penting. Misalnya, kekaguman terhadap orang yang berjalan mundur sekian ribu kilometer. Dengan ini mau ditekankan bahwa pahlawan dalam dunia modern tidak lagi merupakan symbol kesungguhan moral dan heroisme eksistensial, melainkan sekedar symbol prestasi. Anehnya, pahlawan jenis inilah yang lebih popular. Kenyataan ini menurut Kierkegaard menunjukan kedangkalan hidup manusia modern.

Pengaruh negatif kelima dari budaya massa berkaitan dengan implikasi dari ideal persamaan derajat manusia. Dalam ideal itu, diyakini bahwa semua orang memiliki hak yang sama. Akibatnya, semua orang harus memberi andil bagi hidup bersama; misalnya dalam pemerintahan. Ini, sangat dimungkinkan dalam dunia modern oleh perkembangan pers. Pers menjadikan suara publik menentukan sesuatu secara efektif, meski pada taraf non formal. Pers memungkinkan massa menjadi konsep abstrak, menjadi publik yang berisikan individu-individu yang tidak real dan tak bisa diorganisasikan. Ironisnya, publik memiliki kekuatan pengaruh yang sangat mutlak. Individu sangat diagungkan dalam imajinasi, tapi dalam kenyataan konkret, ia tak punya arti.

Dalam konteks budaya modern semacam inilah Kierkegaard membangun filsafat khasnya. Ia menghimbau individu untuk hidup berdasarkan eksistensi yang lebih bertanggungjawab dan tidak larut dalam budaya massa. Ia ingin agar individu menjadi subyek yang otentik. Persisnya, menurut dia, untuk mencapai subyek yang otentik itu tidak hanya dengan cara menguasai realitas secara rasional dan konseptual, tidak juga sekedar refleksi intelektual, tapi harus melalui pilihan, keputusan, dan komitmen yang dilandasi oleh passi, antusiasme, rasa, dan kehendak bebas.

Konsep Eksistensi Menurut Søren Kierkegaard

Cetusan “eksistensi” yang dipondasikan oleh Kierkegaard bertitik tolak dari gagasannya tentang manusia sebagai individu atau persona yang bereksistensi dan konkrit. Ia melihat bahwa hal yang paling mendasar bagi manusia adalah keadaan dirinya atau eksistensi dirinya.<!–[if !supportFootnotes]–>[8]<!–[endif]–> Menurut Kierkegaard, eksistensi hanya dapat diterapkan kepada manusia sebagai individu yang konkrit, karena hanya aku individu yang konkrit ini yang bereksistensi, yang sungguh-sungguh ada dan hadir dalam realitas yang sesungguhnya. Oleh karena itu, aku yang konkrit ini tidak dapat direduksi kepada realitas-realitas lain, sebab jika aku yang konkrit ini direduksi ke dalam realitas-realitas yang lain itu, maka realitas diriku yang sesungguhnya sebagai individu yang bereksistensi tercampur dengan realitas-realitas itu. Dengan demikian, aku individu yang konkrit ini tidak memiliki kebebasan untuk mengembangkan dan mewujudkan diriku sebagaimana adanya karena aku tergantung kepada realitas-realitas itu. Ketergantunganku kepada realitas-realitas itu membuat aku tidak bisa untuk merealisasikan diriku sebagaimana aku kehendaki. Padahal menurut Kierkegaard, eksistensi manusia justru terjadi dalam kebebasannya.<!–[if !supportFootnotes]–>[9]<!–[endif]–>

Menurut Kierkegaard, bereksistensi bukan berarti hidup dalam pola-pola abstrak dan mekanis, tetapi terus menerus mengadakan pilihan-pilihan baru secara personal dan subjektif.<!–[if !supportFootnotes]–>[10]<!–[endif]–> Dengan kata lain, eksistensi manusia merupakan suatu eksistensi yang dipilih dalam kebebasan. Bereksistensi berarti bereksistensi dalam suatu perbuatan yang harus dilakukan oleh setiap orang bagi dirinya sendiri. Pilihan bukanlah soal konseptual melainkan soal komitmen total seluruh pribadi individu. Berangkat dari kebebesan sebagai corak bereksistensi, Kierkegaard dengan demikian tidak menempatkan individu ke dalam realitas yang abstrak tetapi individu dilihat sebagai satu pribadi yang sungguh-sungguh hadir dan konkrit. Oleh karena itu, dalam mengambil keputusan, hanya aku yang konkrit ini yang dapat mengambil keputusan atas diriku sendiri dan bukan orang lain. Orang lain tidak berhak untuk menentukan pilihanku dalam mengambil suatu keputusan atas apa yang aku lakukan. Oleh karena itu, menurut Kierkegaard, barangsiapa yang tidak berani mengambil keputusan, maka ia tidak bereksistensi dalam arti yang sebenarnya. Hanya orang yang berani mengambil keputusanlah yang dapat bereksistensi karena dengan mengambil keputusan atas pilihannya sendiri, maka dia akan menentukan kemana arah hidupnya.<!–[if !supportFootnotes]–>[11]<!–[endif]–>

  1. Kritik Soren Kierkegaard terhadap Sistem Pengetahuan
  2. Sistem dan Metode Ilmu yang Ditawarkan Soren Kierkegaard

2. Filsafat Kierkegaard: Tiga Tahap Eksistensi Manusia.

Menurut Kierkegaard, dalam haru biru , simpang siur budaya modern, manusia harus kembali mendarat pada keadaannya atau eksistensinya sendiri. Namun, keadaan atau eksistensi diri yang dinamis yang selalu berpindah dari kemungkinan ke kenyataan di mana hal itu terjadi karena perbuatan bebas pilihan manusia. Jadi, eksistensi manusia adalah suatu eksistensi yang dipilih dalam kebebasan. Bereksistensi dalam arti berada dalam suatu perbuatan yang wajib dilakukan setiap orang bagi dirinya sendiri. Bereksistensi bearti berani mengambil keputusan yang menentukan hidup. Maka, orang yang tidak berani mengambil keputusan, itu berarti ia tidak bereksistensi dalam arti yang sebenarnya. Bereksistensi berarti berupaya untuk semakin mewujudkan diri, semakin menjadi individu yang otentik. Semakin otentik berarti semakin menjadi makluk rohani.

Proses ini, menurut Kierkegaard dilalui lewat tiga tahap; Estetik, Etik, dan Religius di mana masing-masingnya memiliki ciri serta warna dan tuntutan yang khas. Masing-masing tahap itu membawa manusia untuk tegas pada posisi eksistensi dirinya sendiri. Kekhasan-kekhasan tiap tahap itulah yang mewarnai isi tulisan ini.

Tahap Estetik

Terminologi estetis berasal dari kata Yunani, yang berarti mengindrai, mencecap. Menurut Kierkegaard, pada tahap ini, individu diombang-ambingkan oleh dorongan-dorongan indrawi dan emosi-emosinya. Akibatnya, individu yang berada dalam tahap ini tidak mencapai suatu kesatuan batiniah yang terungkap dalam satu pendirian dan kematangan pribadi. Dengan kata lain, individu masih dihadapkan pada realitas-realitas perasaan yang menyenangkan tanpa memperhitungkan apakah perasaan itu baik atau tidak. Pada tahap ini, individu memiliki keinginan yang besar untuk menikmati seluruh pengalaman emosi dan nafsu. Oleh karena itu, menurut Kierkegaard tidak ada ukuran-ukuran moral yang umum atau keyakinan iman yang ditetapkan untuk membatasi ruang gerak individu. Maka salah satu persoalan yang ditakuti oleh individu pada tahap ini adalah rasa tidak enak dan kebosanan.

Kendatipun tahap ini merupakan tahap rendah dalam eksistensi manusia, namun tahap ini tetap disebut sebagai tahap eksistensial, karena pada tahap ini setiap individu memiliki pilihan bebas atas situasi-situasi yang dia hadapi. Bagaimana memahami pilihan ini, Kierkegaard menampilkan tiga pahlawan estetis dari kebudayaan Barat, yaitu Don Juan seorang tokoh dalam opera Mozart, Faust seorang tokoh ciptaan Goethe, dan Ahasuerus seorang Yahudi yang dalam pengembaraannya tidak percaya kepada Allah maupun manusia. Menurut Kierkegaard, ketiga tokoh ini merupakan perwakilan dari rasa kebosanan dan keputusasaan. Misalnya: Don Juan memiliki rasa kebosanan keputusasaan karena apa yang dia menikmati terus menerus terulang. Demikian pula dengan Faust yang menghadapai berbagai tantangan merasa ragu apakah dia mampu untuk menemukan kebahagiaan dalam hidupnya. Sedangkan Ahasueres menurut Kierkegaard merupakan personifikasi dari keputuasasaan karena ia memiliki realitas hidup yang tidak jelas.

Orang-orang yang hidup pada tahap eksistensi ini setidaknya memiliki tiga ciri. Ciri pertama, mereka lebih mengutamakan mengutamakan kepuasan (plaisure) baik fisik maupun batin. Maka, motivasi dasar perilaku mereka adalah mencari kepuasan. Mereka cenderung membiarkan dirinya dikuasai oleh naluri-naluri sensual dan mood. Apa yang baik baginya adalah yang sesuai dengan mood hidupnya saat itu. Konsekuensinya, segala bentuk realitas, bagi mereka, hanya menjadi medan kemungkinan. Artinya, realitas yang hadir dan ditawarkan di hadapannya hanya menjadi berarti sejauh realitas itu berguna mendatangkan kepuasan bagi dirinya. Dengan kata lain, hidup mereka sangat tergantung pada kenyataan akan kemungkinan di luar dirinya. Tanpa itu, mereka tak berdaya, tanpa arti. Hidup menjadi sesuatu yang bisa sangat membosankan. Sosok manusia dengan cirri dasar ini, oleh Kierkegaard diibaratkan seperti kumbang yang kerjanya menghisap madu dari bunga ke bunga. Lelaki hidung belang yang cenderung hanya mencari nikmat ragawi.

Ciri kedua, mereka tidak memiliki komitmen pada realitas konkret. Artinya, mereka cenderung melihat kenyataan selalu dalam jarak dan imajinasi. Maka, tidak heran hidup mereka sarat dengan refleksi tentang tata nilai, soal nasib buruk yang menimpa umat manusia, perihal hidup bersama yang harmonis dalam keberbedaan, dan sebagainya. Dengan ini, terpatri kesan sepintas lalu seolah-olah mereka demikian menghayati dan bahkan ikut menanggung tragedy umat manusia. Padahal sesungguhnya semua itu mereka hayati hanya dalam imajinasi. Hidup mereka sungguh-sungguh tidak realistis. Mereka punya inteligensi tapi tak punya intensitas pengalaman. Mereka berbicara banyak tapi tidak atas dasar pengalaman langsung. Mereka Cuma memunguti dan mengolah pengalaman-pengalaman second-hand, bukan pengalaman-pengalaman primer atau asli. Oleh karena itu, ungkapan-ungkapan tertinggi mereka paling banter berupa ungkapan verbal atau simbol-simbol seni. Boleh jadi juga, ungkapan mereka merupakan teori-teori ilmiah yang canggih dan mencengangkan atau pun karya seni yang bermutu tinggi tapi sebenarnya tanpa jiwa, kosong, dan kering.

Ciri ketiga, mereka cenderung mengelak dari antuasiasme yang lebih mendalam. Mereka takut terlibat pada sesuatu yang menuntut lebih seperti menikah atau loyalitas pada organisasi tertentu. Dengan menikah, mereka takut dituntut mengikatkan diri pada institusi perkawinan. Dengan berorganisasi, mereka tak mau dituntut untuk mengikuti aturan main yang ada dalam organisasi bersangkutan. Ini berarti mereka tidak mau mengikatkan diri pada standart moral tertentu. Mereka lebih senang hidup tanpa ikatan, hidup sendirian dan bagi dirinya sendiri saja. Bahkan pola hidup semacam ini menurut Kierkegaard adalah pola hidup statis tanpa evolusi khas manusia. Pola hidup mereka yang demikian bisa dinilai tidak lebih dari tanaman dan binatang. Ironi tapi fakta.

Cepat atau lambat, sejauh mereka masih tetap manusia, pola hidup semacam ini akan berakhir dalam keputusasaan yang mendalam, karena hidup tanpa standart moral yang mengikat berarti hidup tanpa kerangka makna, hidup yang lulu-lanta, berantakan. Pada titik inilah, orang baru akan sadar untuk mengikatkan diri pada standar moral tertentu. Mereka baru akan sadar untuk memiliki komitmen pada realitas konkret. Keberanian untuk masuk dalam kawasan ini mengandaikan bahwa mereka telah memilih masuk ke dalam suatu tahap baru yang lebih dewasa, yakni tahap etik.


[1] Terhadap fenomena ini, banyak filsuf tampil memberi reaksi. Salah satu di antaranya adalah Kierkegaard yang detail reaksinya dikupas dalam Makalah ini. Intinya, ia menaruh perhatian besar pada perjuangan eksistensi manusia yang menurutnya diabaikan oleh banyak filsuf (terutama Hegel) dalam pembahasannya

[2] Sugiharto Bambang dan Agus Rahmat Widiyanto, 2000. Wajah Agama dan Etika, Kanisius: Yogyakarta

[3] Menurut Martin Heidegger, hal ini berkenaan dengan cara manusia memaknai waktu. Menurutnya, pada saat-saat semacam itu, orang lebih memandang waktu sebagai Chronos, yakni waktu dipahami sebagai rangkaian acara dan jadwal yang terus datang, lenyap, lalu datang lagi. Memang benar, orang yang hidup dalam cara pandang terhadap waktu yang demikian, akan mudah merasa kosong bila tak ada kegiatan. Sebaliknya, bisa juga menjadi bosan kalau acaranya terlalu padat. Waktu menjadi musuh. Di lain pihak, Heidegger menunjukkan bahwa waktu juga bisa dilihat sebagai Chairos, yakni waktu sebagai kesempatan untuk berkembang. Secara ideal, menurut Heidegger, harus ada perubahan cara pandang terhadap waktu dari Chronos menjadi Chairos

Pos ini dipublikasikan di Uncategorized dan tag , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s