Mendidik Tidak Berlebihan (Fenomena Kelulusan Sekolah)

Yusuf Effendi, S.H.I

Di penghujung bulan april yang lalu pemerintah mengumumkan nilai hasil Ujian Nasional untuk siswa jenjang SMU/MA/SMK. Hasil ujian kelulusan yang diberikan pemerintah kepada para siswa pun ditanggapi beragam oleh kebanyakan siswa. Tanggapan para siswa setelah menerima hasil pengumuman baik yang lulus ataupun tidak lulus masing-masing memiliki ekspresi sebagai wujud dari rasa gembira ataupun duka.

Yang menarik untuk kita cermati Dari beberapa ekspresi yang dimunculkan oleh para siswa setelah menerima nilai hasil ujian baik yang lulus atau tidak lulus adalah bentuk ekspresi yang seakan akan sudah menjadi budaya dan tradisi. ekspresi yang biasanya dipertontonkan untuk siswa yang kebetulan lulus adalah dengan mencoret-coret seragam yang sebenarnya masih layak pakai, setelah puas corat-coret seragam, mereka langsung berkonvoi kendaraan yang diiringi dengan bisingnya suara knalpot, selain itu ada juga yang melakukan tawuran dengan sekolah lain. Baginya, seakan-akan mereka adalah pemenang. Namun Akibat yang ditimbulkan atas ulah mereka adalah suasana lingkungan menjadi gaduh dan tidak karuan, belum lagi kemacetan yang ditimbulkan akibat ulah mereka. Lagi-lagi orang lain ikut menjadi korban yang dirugikan baik itu kebisingan ataupun kemacetan.

Dan adapun untuk siswa  yang tidak lulus, ekspresi yang dipertontonkan adalah dengan menangis histeris, pingsan, merenung diri bahkan bunuh diri. Namun ada juga di daerah lain yang merusak lingkungan sekolah, entah itu merusak kelas ataupun menghancurkan taman dan tanaman yang tidak berdosa. Baginya, seakan-akan dunia sudah berakhir akibat kegagalan yang diperoleh.

Selaku pendidik tentunya kita sangat perihatin atas beberapa ekspresi yang dipertontonkan kepada kita, Pasalnya Ekspresi yang diwujudkan baik itu kegembiraan ataupun kesedihan yang biasa mereka lakukan adalah sangat tidak mendidik dan tidak mencerahkan bagi adik-adik kelasnya. Selain itu seakan-akan mereka tak ubahnya orang yang tidak berpendidikan. karena kedua-duanya mewujudkan sikap yang berlebih-lebihan. Padahal agama manapun (Islam khususnya) tidak ada yang mengajarkan dan mengarahkan kepada umatnya untuk melakukan tindakan secara berlebih-lebihan. Karena Allah sendiri memang tidak menyukai terhadap orang-orang yang suka melakukan tindakan secara berlebihan.

Apalagi dalam dunia pendidikan, semua pendidik tentunya tidak akan sepakat atas tindakan yang berlebih-lebihan. Namun kenapa mereka selalu saja melakukan tindakan yang berlebihan tatkala menerima nilai hasil ujian. Apa ada yang salah dalam model pendidikan dan pembelajaran kita, atau mungkin system pendidikan kita yang salah, atau apa ? entahlah. Yang jelas kita (pendidik) harus mempunyai kemauan untuk melakukan perubahan sedikit demi sedikit agar ekspresi yang mereka pertontonkan tidak lagi mewujudkan sikap yang berlebiha-lebihan. Terlebih tidak lama lagi pemerintah akan segera mengumumkan hasil ujian nasional untuk jenjang SLTP/MTs. Biar tidak kecolongan, kita harus segera mengambil beberapa tindakan.

Caranya, bisa saja pada jauh-jauh hari sebelum pelaksanaan ujian nasional dilaksanakan, pendidik sedapat mungkin untuk dapat memberikan pencerahan kepada para siswanya untuk membaca dan memahami realitas social kemasyarakatan yang ada disekitar kita. Kita sentuh perasaan (emosi) para siswa untuk peduli dan berempati kepada sesama sebagai respon dari persoalan yang ada. Kenapa demikian, menurut Ellis yang sangat menentukan daloam sikap ialah factor perasaan (emosi) dan juga factor reaksi atau kecenderungan untuk bereaksi (merespons) dalam beberapa hal. Dan sikap merupakan penentu yang penting dalam tingkah laku manusia (Robert S. Ellis, t.t.: 288).

Untuk yang lulus misalnya, kita bisa membawa emosi siswa kita terhadap fenomena social yang ada di tengah-tengah masyarakat kita, seperti masih banyak saudara-saudara atau teman-teman kita yang membutuhkan seragam karena ketidak beruntungan ekonomi yang melandanya, membutuhkan kenyamanan, ketenangan dan ketenteraman untuk hidup bersama. Selain itu, kita juga mengajak kepada para siswa agar tidak mudah puas akan apa yang telah diraih pada saat ini, mengingat kedepan tantangan kehidupan semakin sengit dan rumit. Oleh karenanya tidak menjadi berguna melakukan tindakan yang berlebihan, tindakan yang banyak merugikan diri sendirr dan orang lain.

Dan untuk siswa yang kebetulan nanti belum lulus dapat kita berikan motivasi agar tidak menjadi orang yang mudah putus asa. Misalnya, kita bisa menceritakan beberapa orang yang bisa sukses walaupun ketika sekolah tidak lulus. Seperti halnya Henry Ford yang menjadi bos Mobil merek terkenal (Ford), actor Al pacino yang berulang kali mendapatkan piala oscar yang semuanya pada waktu itu tidak lulus pada jenjang SMU. Dan tentunya masih banyak tokoh-tokoh atau orang yang menjadi sukses walaupun saat itu tidak lulus. Tentunya semua ini adalah pendidikan yang mengajak kepada peserta didik untuk tidak melakukan tindakan yang berlebihan. Karena Apapun tindakan yang dilakukan secara berlebihan akan selalu menimbulkan banyak kerugian.

Pos ini dipublikasikan di kelulusan, mendidik, tidak berlebihan, Uncategorized dan tag . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s